RSS

Resensi Buku “Hanya Satu Bumi”

30 Des

RESENSI BUKU “ HANYA SATU BUMI”

 Sebagai buku yang merupakan laporan persiapan untuk konferensi lingkungan pertama tingkat dunia di Stockholm pada tahun 1972, buku ini menelaah planet bumi saat itu yang tengah berada di tidak keseimbangan antara dunia teknosfer dan dunia biosfer manusia. Buku hanya satu bumi ini menerangkan tentang kondisi lingkungan bumi saat akan dilaksanakan Konferensi Tingkat Dunia pertama yang membahas mengenai  lingkungan di Stockholm pada Tahun 1972. Relaitas yang terjadi akibat pola pembangunan modal kapitalistik ini telah ditangkap pada tahun 1972 tersebut dan telah menimbulkan kecemasan akan bagaimanakah dunia ini jika model yang sama tetap dipertahankan. Ketidakseimbangan biosfer dan teknosfer yang terjadi lama kelamaan akan menjadi boomerang bagi umat manusia yang akan membinasakan manusia itu sendiri. Konsep-konsep pada buku inni mendasari berdirinya ide pembangunan yang berkelanjutan yang tertuang dalam Konferensi Tingkat Dunia lanjutannya di Tahun 1987, yang dikenal dengan “ Our Common Future”. Jika dilihat dari point-point utama yang ada dalam buku Hanya Saatu Bumi ini filtrasi utamanya pada konsep pembangungan berkelanjutan “Our Common Future” jelas terlihat yaitu pada bagian bab 9 bagian ke dua buku. Pada buku ini dijelaskan bahwa proses pertumbuhan ekonomi, harus tidak bertentangan dengan lingkungan dengan adanya keterikatan, partisipasi bersama masyarakat dalam membangun lingkungan tersebut. Hal ini dijabarkan menjadi konsep pembangungan berkelanjutan yaitu pembangungan yang meliputi pengentasan kemiskinan (pertumbuhan ekonomi) dengan melibatkan aspek lingkungan dan partisipasi masyarakat. Selain itu, konsep kemiskinan Negara berkembang pola keseimbangan biosfer  yang harus diusahakan, dan lain-lain pada “ Our Common Future” juga dilandaskan dalam buku hanya satu bumi ini. Oleh karena itulah, buku ini merupakan dasar awal dari ajakan internasional untuk mengajak dunia agar menjaga lingkunganya.

Pada buku ini berisi empat bagian, yaitu: kesatuan planet, kesatuan ilmu pengetahuan, masalah teknologi tinggi, Negara berkembang, dan tata planet. Keempat hal tersebut memiliki focus tentang bumi dan segala isinya yang harus kita jaga kelestariaannya, namun dengan adanya pembangunan kelestarian lingkungan menjadi tidak diperhatikan. Maka, ditulisnya buku ini sebagai bentuk keprihatinan terhadap rusaknya lingkungan yang terjadi saat ini.

Buku ini berisi tentang dunia yang kita diami saat ini memiliki fungsi sebagai biosfer dan teknosfer. Dunia sebagai biosfer adalah dunia yang melindungi kita tempat kita hidup, sedangkan teknosfer adalah dimana kita dapat berkembang dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Namun kenyataannya sekarang dunia kita dalam keadaan tidak seimbang dimana biosfer dan teknosfer dalam keadaan tidak sama. Ketidakseimbangan tersebut mungkin juga dapat menyebabkan adanya pertentangan. Dimana manusia ada ditengah-tengahnya. Dalama ini juga dibahas tentang perlunya pengambilan suatu langkah dalam pemmecahan permasalahan yang terjadi, sehingga kita dapat mempertahankan kelangsungan hidup kita. Serta tentang hal-hal yang harus kita perhatikan dalam pemecahan permasalahan sehingga kita dapat menjaga lingkungan dengan baik. Sehingga  diperoleh suatu keseimbangan yang baik dan tetap terjaga di bumi ini.

Namun walaupun telah disadari sejak lama akibat kerusakan lingkungan ini, dari Tahun 1972 hingga saat ini (2011), kurang lebih selama 39 Tahun, akan tetapi konsep pembangunan yang diusulkan belum dapat dilaksanakan dengan optimal. Walaupun setelah konferensi stockhlom dibentuk United Nations World Commission on Environment and Development (WCED) ynag dipublikasikan pada Tahun 1987 dan mengeluarkan laporan “ Our Common Future”, Deklarasi Rio (1992), Protokol Kyoto (1997), Bali Roadmap (2007), dan CTI-WOC (2009), dan lainnya. Namun konsep pembangungan berkelanjutan yang menyeimbangkan antara biosfer dan teknosfer belum dapat dilakukan.

Bahkan saat ini keseimbangan yang terjadi terlihat semakin parah. Semenjak tahun 1970, emisi rumah kaca menunjukkan pola yang meningkat hingga tahun 2006. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa walaupun konsep pembangunan dalam buku Hanya Satu Bumi ini sangat baik, namun komitmen dunia untuk melaksanakannya masih lemah. Lemahnya komitmen ini diakibatkan oleh ketidakberadaan kekuatan politis sehingga kekhawatiran para ahli lingkungan yang tertuang dalam konferensi Stockholm tersebut hanyalah bersifat himbauan. Himbauan ini kerap diabaikan jika hanya memandang pola pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Cengkraman kapitalistik pada perekonomian dunia bukanlah hal yang mudah untuk dibuka. Mulai dari era imperialis hingga liberalism saat ini, keengganan menyeimbangkan antara dunia uta dan selatan sangat sulit mengingat kapitalisme telah begitu berakar di dunia utara dan di dunia selatan telah terikat oleh perjanjian-perjanjian pengerahan sumber daya untuk pembayaran utang-utang dalam bentuk moneternya ke dunia utara. Membongkar hal ini diperlukan suatu upaya yang luar biasa kuatnya bagi Negara selatan.

Namun, jika hanya menyalahkan faktor kekurangan modal di Negara dunia ketiga sebagai akar permasalahan utama, seperti yang dituliskan dalam buku ini, maka hal ini berlum untuk menjelaskan terdapatnya beberapa Negara yang mampu dengan cepat keluar dari miskin menjadi Negara kaya, seperti Negara Negara-negara ras kuning. Hal yang terlewatkan oleh buku ini adalah ketika etika di Negara-negara selatan memiliki doktrinasi masyarakat kelas ketiga puluhan tahun, yang merupakam etika lemah. Pada dasarnya Negara-negara berkembang seperti Indonesia, telah memiliki apa yang dibutuhkan untuk menjadi Negara maju. Ahli-ahli ilmu pengetahuan di berbagai bidang, kuatnya sumber daya alam serta modal ekonomi dalam negeri yang relative maju dan kuaat. Satu-satunya kekurangan adalah etika dalam membangun. Korupsi, nepotisme , terpecah belah ego sektoral, dan kekurangan kesatuan menjadi akar permasalahan umum di Indonesia, dan juga beberapa Negara lainnya sulit berkembang. Hal ini ditambambah dengan lemahnya daya juang dan malas karena terbiasa dengan kemudahan mendapatkan sumber daya alam pendukung kehidupan yang berlimpah selama ratusan tahun. Di model Negara-negaraseperti inilah, kapitalisme begitu mencengkram lewat loalisi kepentingan antara pemodal multinasional dan penguasa Negara (pemerintah) untuk saling memperkaya diri sendiri dengan membangun industry tidak ramah lingkungan. Model koalisis inilah yang menjadi akar permasalahan yang kuat, seharusnya Negara ketiga akan mampu dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama, seperti di Korea dan di Jepang, industrialisasi teknosfer, menyeimbangkan teknosfer dengan biosfernya.

Oleh karena itulah, sebenarnya secara pesimistis harapan untuk mandiri dengan sendirinya dari dunia ketiga sangat sulit diharapkan. Bukan karena Negara maju seperti yang dituliskan dalam buku Hanya Satu Bumi ini, namun melihat perkembangan yang telah terjadi di Negara ketiga terutama di Indonesia, akar masalah terletak pada dunia ketiga itu sendiri. Sehingga sekali lagi, dalam mencapai tahapan keseimbangan teknosfer dan biosfer, harus diharpkan inisiatif yang besar dari masyarakat Negara maju. Kembali berlainan dengan buku Hanya Satu Bumi ini, jika pada buku diharapkan dengan pesimis hal ini dapat dimulai dari masyarakat Negara maju sebagai pemegang kapitalisme, tulisan ini berpendapat bahwa upaya penyeimbangan di masa mendatang dapat diharapkan terlaksana. Dengan semakin nyatanya efek perubahan iklim, seperti frekuensi el nino yang makin sering maka dapat dinyatakan sikap kritis masyarakat maju akan kebijakan pemerintahannya yang tidak berpola berkelanjutan di dunia ini, bukan hanya dinegaranya akan semakin kuat. Contohnya dapat dilihat dari Amerika Serikat yang awalnya tidak mendukung protocol Kyoto (1997) namun 10 tahun kemudian menyetujui Roadmap Bali(2007). Berdasarkan contoh ini dapat secara otomatis bahwa di masa yang akan dating, upaya-upaya mitigasi kerusakan lingkungan global secara politis yang mengikat akan dapat diberlakukan. Sehingga walaupun tidak berpola secara revolusionis, namun secara perlahan dan evolusionis, sikap kritis masyarakat dunia ini akan menjadi sebuah political power yang kuat untuk menegakkan political will pembangungan ekonomi yang menyeimbangkan antara dunia teknosfer dan biosfer, demi keberlangsungan hidup manusia di bumi yang hanya satu ini.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 30, 2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: